Beli Bibit Indigofera hubungi 0811 2878 202

Share this :

Beli Bibit Indigofera hubungi 0811 2878 202 bibit yang berkualitas dan Asli. Beberapa peternak, terutama peternak ruminansia kini sedang hadapi persoalan pakan. Keadaan ini umum terjadi waktu kemarau tiba. Minimnya suplai pakan khususnya pada musim kemarau biasanya dikarenakan petani cuma mempercayakan hijauan pakan lokal yang terdapat di sekitar perkebunan, kebun dan rimba.

Dengan tanaman Indigofera zollingeriana, persoalan ini bisa teratasi. Indigofera ialah hijauan pakan tipe leguminosa pohon yang mempunyai kualitas gizi yang lebih tinggi, gampang diperbudidayakan dan tahan pada kekeringan, hingga bisa jadi alternative sumber pakan pada musim kemarau. Salah satunya usaha untuk tingkatkan nilai nutrisi dalam ransum adalah memakai bahan pakan alternative yang mempunyai salah satunya elemen nilai nutrisi yang dominan. Bahan pakan alternative mempunyai potensi jadi unggulan saat terjadi pengurangan kualitas pada bahan pakan khusus seperti ekstrak dan rumput. Disamping itu, bahan pakan alternative mempunyai potensi untuk gantikan (substitusi) serta melengkapi (komplemen) bahan pakan khusus yang tersedia. Lebih jauh kembali, bahan pakan alternative umumnya memiliki sifat mempunyai harga yang semakin lebih murah dibanding bahan pakan khusus, tetapi cuma mempunyai salah satunya elemen gizi yang menguasai, hingga pemakaiannya membutuhkan pencampuran berbahan pakan lain.

Indigofera Untuk Pakan Ternak

Beli Bibit Indigofera

Indigofera zollingeriana ialah tipe indigofera yang relatif baru diperkembangkan di Indonesia. Tanaman ini mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi sama dengan rumput alfalfa, yakni protein: 28-32%, serat baik: 38,30-51,05%, ADF: 28,6-42,29%, kalsium: 1,16-1,78%, fosfor: 0,26-0,31%, kalium: 1,3-1,4%, dan magnesium: 0,45-0,51%. Kandungan mineral yang lebih tinggi bagus untuk peternak perah, susunan serat yang bagus dan nilai kecernaan yang lebih tinggi untuk peternak ruminansia. Disamping itu, tanaman indigofera bisa hasilkan daun kering sekitar 10,2 ton per hektar per panen atau sekitaran 51 ton per hektar /tahun.

Indigofera zollingeriana dapat tumbuh di ketinggian di antara 0-2200 mdpl dengan curahan hujan di antara 600-3000 mm/tahun. Pergerakan perkembangan, produksi biomassa dan kandungan gizinya semakin lebih besar bila dibanding tipe leguminosa lain pada tanah dan cuaca yang sama. Indigofera zollingeriana benar-benar gampang dibudidayakan, karena tanaman ini hasilkan biji untuk sumber benih selama setahun tanpa mengenali musim, tolerir pada cuaca kering, tanah masam dan alkali. Selain itu, tanaman ini tahan pada pemotongan hingga benar-benar prospektif sebagai tanaman pakan berkualitas yang bisa jadi jalan keluar pada kebatasan suplai pakan hijauan peternak, khususnya untuk wilayah beriklim kering.

Kualitas Indigofera

Indigofera zollingeriana ialah legume yang bisa dipakai sebagai pakan peternak dan relatif baru diperkembangkan di Indonesia. Tanaman ini mempunyai kandungan protein kasar yang lebih tinggi sama dengan alfafa (25 -23), kandungan mineral yang lebih tinggi bagus untuk peternak perah, susunan serat yang bagus dan nilai kecernaan yang lebih tinggi untuk peternak ruminansia. Walaupun Indigofera termasuk tanaman yang bagus untuk sumber bahan baku pakan berkualitas, tetapi peternak sedikit manfaatkan hijauan tanaman ini karena masih tetap terbatas ketersediaanya karena sedikit diproduksi.

Indigofera zollingeriana bisa digunakan sebagai pakan peternak yang kaya nitrogen, kalsium dan fosfor. Indigofera zollingeriana baik sekali digunakan sebagai hijauan pakan peternak dan memiliki kandungan protein kasar 27,9%, serat kasar 15,25%, kalsium 0,22%, dan fosfor 0,18%. Legume Indigofera zollingeriana mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi, tolerir pada musim kering, kubangan air dan tahan pada salinitas dan kandungan protein yang lebih tinggi (26% -31%) dibarengi kandungan serat yang relatif rendah dan tingkat kecernaan yang lebih tinggi (77%).

Tanaman ini baik sekali untuk sumber hijauan baik sebagai pakan dasar atau sebagai pakan suplemen sumber protein dan energ i, terutama bagi peternak dalam status produksi tinggi (laktasi) karena tolerir pada kekeringan, karena itu Indigofera zollingeriana bisa diperkembangkan di daerah dengan cuaca kering untuk menangani terbatasinya ketersedian hijauan khususnya sepanjang musim kemarau. Keunggulan lain tanaman ini ialah kandungan taninnya benar-benar rendah sekitar di antara 0,6 -1,4 ppm (jauh di bawah tingkat yang bisa memunculkan karakter anti gizi).

Indigofera zollingeriana mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi, tolerir pada musim kering, kubangan air, dan tahan pada salinitas. Rupanya tanaman ini sebagai komoditas perkebunan yang bisa jadi pakan ternak. Peningkatan tanaman ini minimal dapat kurangi keterikatan Indonesia akan import bungkil kedelai.

Indigofera Zollingeriana

Tanamam yang diartikan ialah Indigofera zollingeriana. Dalam masyarakat biasa disebutkan nila yang umum dipakai sebagai perwarna. Cuma tidak seluruhnya spesies nila yang dapat dibuat jadi pakan. Menurut Prof. Luki Abdullah, ahli peternakan dari Institute Pertanian Bogor (IPB), hasil dari riset dari 700 indigofera diketemukan bila Indigofera zollingeriana salah satunya yang pantas jadi sumber ahli ternak.

Indigofera zollingeriana bisa dibuat jadi ekstrak hijau yang sejauh ini memakai bahak baku beberapa bijian yang harga makin hari makin mahal. IPB sudah lakukan riset semenjak 2008 dengan beberapa hasil pengkajian yang menarik. Tanaman indigoferas itu mempunyai bio massa tinggi. Tolerir pada ketinggian dan sanggup menaha erosi dan membenahi kesuburan tahan. Hingga pantas jadi tanaman pelestarian.

Berkaitan sebagai pakan, ekstrak indigofera bisa dibuktikan dicintai peternak dan aman. Disamping itu konsumsi konsetrat hijuan itu mempunyai imbas pada kualitas produksi ternak. Kabarnya sapi yang konsumsi indigofera mempunyai warna daging lebih merah cerah. Disamping itu kandungan dan cholesterol lebih rendah. Kotoran sapi relatif tidak berbau dengan pengurangan emisi methan sampai 26 %.

Sementara untuk hasil berbentuk telur, konsumsi indigofera tipe ini bisa kurangi kandungan cholesterol dan membuat kuning telur tidak gampang pecah saat dibuka.Terkait dengan reproduksi, konsumsi indigofera tingkatkan birahi dan turunkan abnormalitas sperma. Tetapi yang memikat ialah pemakaian indigofera bisa menekan ongkos pakan sampai 20 – 30 %. Sementara tanaman ini bisa ditumpangsarikan tanaman perkebunan sebagai tanaman pagar atau celah. Ingat Indigofera zollingeriana sebagai tipe legume yang dapat menambat N. Disamping itu tanaman ini berharga ekonomi.

Jenis Hewan Ruminansia

Hewan ruminansia adalah hewan-hewan yang memiliki sistem pencernaan khusus yang disebut sistem pencernaan ruminansia. Sistem ini memungkinkan mereka untuk mencerna dan memanfaatkan nutrisi dari bahan pakan yang sulit dicerna seperti serat kasar. Beberapa jenis hewan ruminansia yang umum dikenal meliputi:

  1. Sapi: Sapi adalah hewan ruminansia yang paling umum dan penting dalam peternakan. Mereka termasuk dalam genus Bos dan banyak dipelihara untuk daging, susu, dan kerja. Sapi memiliki perut berbilik empat, yang terdiri dari rumen, retikulum, omasum, dan abomasum.
  2. Domba: Domba adalah hewan ruminansia lainnya yang sering dipelihara untuk daging, susu, dan wol mereka. Mereka termasuk dalam genus Ovis dan memiliki perut berbilik empat seperti sapi.
  3. Kambing: Kambing, termasuk dalam genus Capra, juga merupakan hewan ruminansia yang umum dipelihara untuk daging, susu, dan bulu. Mereka memiliki sistem pencernaan yang mirip dengan domba dan sapi.
  4. Rusa: Rusa adalah jenis ruminansia liar yang banyak ditemui di berbagai belahan dunia. Mereka termasuk dalam keluarga Cervidae dan memiliki sistem pencernaan ruminansia yang memungkinkan mereka memakan tanaman serat tinggi.
  5. Kuda: Meskipun kuda bukan hewan ruminansia sejati, mereka termasuk dalam kelompok hewan “pseudoruminansia”. Kuda memiliki perut berbilik satu, yang memungkinkan mereka mencerna serat kasar dengan bantuan mikroorganisme dalam usus besar.
  6. Unta: Unta adalah hewan ruminansia yang penting di daerah-daerah gurun. Mereka termasuk dalam keluarga Camelidae dan memiliki sistem pencernaan khusus yang memungkinkan mereka menyimpan air dan bertahan dalam kondisi lingkungan yang keras.

Itu adalah beberapa contoh hewan ruminansia yang umum dikenal. Ada juga beberapa hewan ruminansia lainnya seperti kerbau, rusa kutub, dan beberapa jenis antelop.

Baca juga: Tanaman Indigofera Zollingeriana

Pentingnya Hijauan Pakan Berkualitas

Peternak ruminansia di Indonesia mempunyai peran yang penting dalam penuhi keperluan daging nasional. Keperluan daging nasional beberapa besar sebagai kontributor dari peternakan masyarakat dan kekurangannya disuplai impor. Persoalan yang ditemui peternak sekarang ini ialah rendahnya keproduktifan peternak sebagai imbas dari rendahnya kualitas dan jumlah hijauan pakan. Rendahnya keproduktifan peternak potong dikarenakan oleh status gizi dan supply hijauan selama setahun yang lebih rendah khususnya pada musim kemarau, terutama di wilayah kering daerah Timur Indonesia. Terbatasinya suplai hijauan pakan sepanjang musim kemarau tidak cuma terjadi di Indonesia sisi Timur, tetapi di daerah lain alami hal serupa. Diantaranya ini dikarenakan oleh petani cuma memercayakan hijauan pakan lokal yang ada disekitaran pelataran, perkebunan, kebun dan rimba.

Tersedianya pakan sebagai masalah khusus yang kerap ditemui oleh peternak sapi dan kerbau secara umum, ini benar-benar dirasa oleh peternak khususnya pada musim kemarau. Hal ini makin diperburuk makin penyempitan area penggembalaan peternak dan tidak ada tempat yang bisa diperkembangkan untuk menanam tanaman pakan. Untuk menangani kebatasan pakan khususnya musim kemarau dibutuhkan alternatif yang lain untuk hijauan pakan peternak selainnya rumput. Tanaman legum pohon adalah opsi yang pas untuk menangani permasalahan ini. Indigofera zollingeriana (I. zollingeriana) adalah legum pohon yang prospektif untuk diperkembangkan untuk sumber pakan hijauan menangani kekurangan pakan dimsim kemarau. Legum pohon I. zollingeriana benar-benar dicintai oleh peternak ruminansia dan mempunyai kandungan protein yang tinggi sekali, capai 27%. Tanaman ini mulai diperkembangkan dan memancing ketertarikan kelompok peternak untuk sumber protein untuk peternak mereka. Tanaman ini baru memulai dikenalkan dan diperkembangkan di Pulau Lombok. Info mengenai perkembangan dan kesesuaian tanaman ini di
Pulau Lombok masih terbatas demikian juga dengan nilai gizi dan kwalitasnya sebagai pakan ternak.

Perawatan Tanaman Indigofera

Beli Bibit Indigofera

Tanaman Indigofera yang ditanamkan ditanah regosol dengan cuaca basah hasilkan perkembangan yang subur dan berkembang secara baik. Tanaman kelihatan hijau fresh dengan daun dan tangkai yang hijau fresh dan tumbuh dengan cepat. Tinggi tanaman saat potong paksakan (pemangkasan pertama) ialah 50 cm di atas permukaan tanah. Seterusnya tanaman didiamkan tumbuh sepanjang 30 hari, 45 hari dan 60 hari saat sebelum selanjutnya dilaksanakan pemangkasan yang ke-2 .

Usia pemangkasan dalam jarak potong 45 hari sebagai tindakan pemangkasan terbaik untuk legum Indigofera. Selanjutnya diikuti dibuatnya kandungan nutrien dan tingkat kecernaan nutrien yang lebih tinggi. Walaupun tingkat perkembangan dan produksi hijauan tidak dengan tinggi yang dibuat pada usia pemangkasan 60 hari. Indigofera sebagai tanaman prospektif yang bisa diperkembangkan dan digunakan untuk sumber pakan peternak unggulan. kandungan protein kasar, kalsium, dan fosfor dalam Indigofera zollingeriana paling tinggi pada pemangkasan pertama tetapi kandungan ini makin turun bersamaan dengan bertambahnya jeda pemangkasan.

Indigofera zollingeriana sebagai tanaman legum yang mempunyai potensi besar menjadi bahan pakan alternative sumber protein dalam usaha produksi sapi potong. Belakangan ini, Indigofera zollingeriana banyak diperkembangkan karena mempunyai produksi biomassa yang tinggi dengan faedah yang bagus sebagai alternatif ekstrak dalam ransum sapi perah. Benih indigofera bisa dikembangkan dengan biji dari tanaman yang sudah tua.

Salah satunya usaha untuk tingkatkan nilai nutrisi dalam ransum adalah memakai bahan pakan alternative yang mempunyai salah satunya elemen nilai nutrisi yang dominan. Bahan pakan alternative mempunyai potensi jadi unggulan saat terjadi pengurangan kualitas pada bahan pakan khusus seperti ekstrak dan rumput. Disamping itu, bahan pakan alternative mempunyai potensi untuk gantikan (substitusi) dan lengkapi (komplemen) bahan pakan khusus yang tersedia. Lebih jauh kembali, bahan pakan alternative umumnya memiliki sifat mempunyai harga yang semakin lebih murah dibanding bahan pakan khusus. Namun cuma mempunyai salah satunya elemen gizi yang menguasai, hingga pemakaiannya membutuhkan pencampuran berbahan pakan lain.